Pilihan Part II

Setelah persiapan-demi persiapan telah dilakukan, tinggal menunggu hasil serta tak lupa pula meminta restu dan do’a dari orang tua.

 

Percakapan antara aku dan ibu ku saaat di telepon

Ibu : “Gimana persipannya? gimana jadi kau ke Jerman itu?”

Aku : “Nggak tahu euy, dewi masih cari-cari orang tua angkat, padahal mah udah apply sampe hampir 200 calon orang tua angkat, tapi tetap aja nggak ada yang mau 😦 , sekarag mah dewi lagi usaha buat ke Australia dulu, kerja ada disana, terus ntar disana sambil ngumpulin uang buat bisa kuliah lagi ke Jerman.. Mamak do’ain dewi ya..”

Ibu: “Gimana caranya berdo’a, mamak pun gak tahu gimana caranya berdo’a..”

Aku : ” Yah,  di do’a aja.. , dewi juga  lagi sambil cari kerjaan baru nih, lumayan waktunya kalo dibuang gitu aja.. kan ntar kalo dewi ada gaji lagi insya Allah bisa kayak kemarin, kirim mamak uang lagi, yah walaupun gak seberapa lah.. ”

Ibu: “Ah, gak percaya mamak sama gituan, udah gak masuk lagi yang kayak gitu-gitu..”

Aku: “lah, terus? mamak harus pilih salah satu lah, mau percaya sama agama yang mana, mau itu nasrani atau islam. Kan islam udah gak lagi, yah berarti mamak ke gereja dong… ”

Ibu : “Ah, udah jangan sok kau ajarin aku yang kayak gitu..  Aku gak percaya aku sama Tuhan,”

Lalu beberapa detik aku terdiam

Aku: “Terus ntar kalo mamak meninggal ntar dikuburinnya di kuburan yang mana? ”

Ibu : “Buang aja jasadku nanti ke sungai ”

Lalu perbincangan berakhir dengan begitu saja..

Pernah gak sih kamu berpikir bahkan mengalami perbincangan seperti itu?

Aku baru mengalaminya.

Aku sudah tahu bahwa ibu ku tidak mempercayai Tuhan itu sebenarnya sejak aku awal kuliah, tepatnya sejak lima tahun yang lalu.

 

Aku sang aktivis kampus yang sibuk sendiri,

Aku yang terlalu asik sendirian,

Aku yang kesana- kesini sibuk menuntut ilmu agama,

Aku yang kesana – kesini rela jauh-jauh untuk belajar membaca Al-qur’an,

Aku yang sibuk terkadang belajar untuk puasa Nabi Daud,

Aku yang sibuk disaat seperempat malam bangun lalu bermunajat kepadaNya dan menyampaikan semua cita-cita dunia ku yang hanya bisa dibilang untuk kepentingan ku sendiri

Tiba-tiba pertanyaan seperti ini muncul di otak ku,

“Dew, kamu selama ini  sholat fardhu 5 kali sehari, seblum lagi sunahnya,
puasa ramadhan juga, belum lagi sunahnya, tapi kamu  mau biarin ibu kamu kayak gitu teh sampai kapan? “

Pertanyaan itu selalu muncul selama beberapa hari, hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang rekan di Masjid Salman ITB, dan aku menceritakan semua yang aku alami dari aku kecil hingga aku saat ini. Gimana keaadan keluarga, gimana rasanya hidup setelah pasca perceraian orang tua sejak aku umur 6 tahun, gimana rasanya hidup sendirian yang harus berpindah-pindah, gimana rasa capeknya hidup, gimana rasanya lelahnya menanggung beban hidup sejak kecil hingga saat ini  dan tanpa adanya teman cerita, gimana rasanya hidup struggle sendirian dan kamu harus menalan bulat-bulat semuanya juga sendirian. Gak pernah cerita sama siapun apa yang sebenarnya kamu rasakan. Sakit sendirian. Rasa marah yang tak bisa kamu sampaikan karena keterbatasan hidup.

Akhirnya setelah aku menceritakan semuanya aku dan teman ku duduk di koridor Masjid Salman dari pukul 16.00, yang awalnya niat kesana buat datang ke kajian, berujung curhat, dan sampai akhirnya kami setelah buka puasa gratis 😀 melanjutkan curhat ke Madtari.

Setelah malam itu membuat aku berpikir keras untuk mengurungkan niat untuk pergi jauh dari keluarga dalam jangka waktu tahun ini.

Seketika aku memtuskan dan langsung beralih arah (lagi) untuk menunda niat untuk keluar negeri, masih ada priortas yang harus aku selesaikan sebelum pergi menihggalkan tanah air. Mendakwahi ibu.

Seketika, aku teringat dengan salah satu ayat Al-qur’an yang intinya, Orang-orang yang rajin beribadah malah tapi masuk ke neraka. 

Aku takut termasuk diantaranya.

Mungkin ini rencana Allah, qodratullah.

Akhirnya setelah melawati pemikiran yang cukup panjang, aku memutuskan untuk menunda mimpi untuk bisa kuliah ke Jerman, ingat menunda bukan melupakan.

Mungkin saat ini berseru kepada ibu adalah hal yang lebih penting dari pada itu semua, ingat gak kisah Rasulullah yang tak bosan berseru kepada pamannya menuju jalan kebaikan?

Lalu setelah beberapa hari kemudian, aku  diterima kerja di sebuah perusahaan waqaf.
SOP perusahaannya salah satunya adalah, setiap pagi sebelum melakukan aktivitas semua karyawa haus mengikuti kegiatan rohani pagi seperti mendengarkan kajian dan menghafal beberapa ayat al-qur’an dan menyetorkannya.

Allah selalu memberikan apa yang hambanya butuhkan, bukan inginkan.

Lagi-lagi aku takjub dengan magic yang diberikan Allah, karunia yang tak henti habisnya.

Aku berencana untuk menyeru ibu kepada kebaikan, namun ilmu agama ku pun masih kurang, ternyata Allah menempatkan aku disana. Sungguh pas.

Setelah itu aku akan mentrasfer ilmu tersebut kepada ibu ku, bahkan kalau bisa kepada siapa pun, bukan kah kalau mau menjadi seorang guru harus menimba ilmu terlebih dahulu..
Sebelum aku menyeru kebaikan, berarti aku harus punya dulu ilmu kebaikan itu pula.

Do’akan saja 🙂

Jatinangor, 19 Juni 2017

9.58 AM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s