Penjumlahan

Jadi ceritanya begini…

Jum’at minggu lalu aku bersama beberapa punggawa istana kerajaan serta tak lupa pula juga satu orang anak dari kerajaan tetangga sebelah. Kami berencana ingin pergi ke pulau seberang untuk menghadiri pesta pernikahan Putri Air  dan Pangeran Kapak dinegeri yang terdapat banyak sekali simbol-simbol perdamaian dunia itu. (read: siger)

Awal kepergian, kami hanya menyiapkan bekal seadanya saja. Hingga sampailah kami dipintu masuk perlintas antar dua negeri, sang pengawal pintu mengatakan bahwa untuk dapat masuk ke dalam sana kami harus membayar dengan kepingan emas, sedangkan kami hanya membawa kepingan perak 😦 .

Tapi untunglah sang anak tetangga sebelah membawa persedian bekal yang cukup banyak, sehingga untuk sementara waktu kami menggunakan kepingan emas miliknya. Oia, anak dari kerajaan tetangga sebelah itu bernama Pangeran berGigi. Tak lupa pula disana ada Pangeran Everest, Putri berUang, Pangeran Pundungius serta Kurcaci Teduh dia adalah anak dari Pangeran Daun dan aku sendiri adalah Kurcaci Aloevera. Tiga diantara nama tersebut adalah pemberian dari ibuku yang bernama Putri Bunga sedangkan sisanya .. *mikir keras

Sesampainya dimuara persinggahan kami menyaksikan pertarungan hiruk pikuk kehidupan dan juga lembayung senja matahari yang ingin pergi untuk menemui sang bulan. Dari kejauhan kami telah melihat simbol perdamaian dunia yang sangat besar pertanda bahwa kami akan segera tiba disana. Sesampainya dinegeri yang penuh dengan simbol perdamaian dunia itu kami disambut hangat oleh seorang prajurit tempur yang konon katanya adalah kerabat dari keluarga Putri Air diistananya.

Oia, Hari ini adalah hari dimana Putri Air  dan Pangeran Kapak resmi dinyatakan sebagai sepasang kekasih. Alias Ratu Air dan Raja Kapak.

Pada keesokan harinya, pesta yang sangat meriah atas bersatunya raja dan ratu tersebut dilaksanakan dan tak lupa pula mereka menggundang semua orang dinegeri itu untuk merayakannya bersama-sama dengan gembira.

Setelah kami menyaksikan kemeriahan pada pesta itu, lalu kami pergi untuk berkunjung  ketempat singgasana Pangeran  Pundungius disana kami juga disambut dengan hangat dan tak lupa pula ibu dari Pangeran Pundungius memberikan kami perbekalan yang cukup banyak untuk perjalanan pulang esok.

Malam harinya kami memutuskan untuk tidur disinggasananya kurcaci Teduh. Orangtua kurcaci Teduh sangat ramah dan disana aku menemukan seekor anak kelinci yang sangat lucu. Aku, kurcaci Teduh, Putri berUang , Pangeran Everest dan Pangeran berGigi tidak henti-hentinya bermain bersama kelinci mungil itu, hingga akhirnya Pangeran berGigi membuatnya pergi beberapa kali karena kelinci tersebut merasa takut dan akhirnya menanggis. Hiks. 😦

Besoknya kami sudah siap untuk kembali pulang ke kerajaan masing-masing. disepanjang perjalanan kami sibuk membicarakan tentang ini dan itu. Tetapi intinya hanya berputar-purat pada cerita dimasa lalu sampai keinginan dimasa depan, tak terkecuali ingin menikah dengan siapa nantinya. hihih *senyum malu-malu

Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan seeorang nenek tua. Dia memberikan kami nasihat tentang kehidupan yang sudah lama ia cicipi.

Bahwa menikah bukan tentang sebuah keinginan,tetapi melainkan sebuah kesiapan. Kesiapan oleh dua insan yang akan akan melajukan kapal dan siap untuk melewati terjangan ombak serta harus bisa melawan para bajak laut yang bisa kapan saja datang untuk merampok impian-impian kecil  hingga mampu merobek dan mencabik-cabik isi otak yang waras menjadi tidak wajar dalam berpikir.  Ketika seorang insan yang sudah siap  maka dia akan dipertemukan oleh orang yang sudah siap juga.

-DSL

Tubagus Ismail, Dago, Bdg.

Kamis, 20 September 2015 (04.00 PM)

Inspirasi : Nenek dan Buku Genap karya Nazrul Anwar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s