Antara kamu dan mereka

Sudah seminggu belakangan ini Bumi asik bermain bersama sahabatnya yang bernama Hujan. Hujan yang selalu memberi kehidupan, membasahi tanah yang kering dan selalu memberi sumber kehidupan yang bernama air. Dikala saat Hujan bermain dengan asyiknya ditaman kehidupan, tiba-tiba hujan bertanya kepada bumi.
“ Bumi, apa yang membuatmu kuat dan sabar dibikin rusak oleh sekelompok manusia yang sebenarnya mereka hanya menumpang hidup ditubuhmu?” tanya Hujan.

“Mengapa tiba-tiba kamu bertanya tentang hal itu wahai Hujan?” Bumi membalas berntanya.

“Ah, tidak, aku hanya bangga saja kepadamu. Kamu Bumi memliki jiwa yang sangat besar dan kuat untuk menerima semua masalahmu. Aku tahu, sebenarnya dirimu sedang sakit, sakit dibuat oleh sekelompok manusia yang tiada hentinya selalu mengeruk isi tubuhmu yang mereka kira isi tubuhmu itu dapat membuat mereka menjadi hidup tidak bergantung kepadamu.” jawab Hujan kepada Bumi.

“Hanya itu saja?” tanya Bumi.

“ Bumi,, terkadang aku merasa sedih. Banyak sekali sekelompok manusia yang hidup ditubuhmu tidak menyukaiku. Disetiap kedatanganku mereka selalu mengeluh, marah, bahkan ada yang langsung mencaci makiku. Padahal aku sendiri juga tidak tahu apakah aku memiliki sebuah kesalahan terhadap mereka? Bumi sebenarnya aku ingin bermain bersamamu lebih lama lagi, tanpa adanya mereka yang hidup didalam tubuhmu bisa? Agar mereka tidak terus menerus mencaci maki, mengeluh bahkan marah terhadapku ketika aku sedang asik bermain bersamamu” kata Hujan.

Lalu Bumi berhenti bermain disekotak tanah dan berjalan menuju Hujan yang dari tadi duduk diatas ayunan yang rendah namun indah.

Hap.. hap… hap.. bunyi langkah kaki kecil Langit yang polos berjalan menuju Hujan

“Hujan. Mengapa kamu memikirkan hal yang seperti itu? Hujan, biarkanlah mereka marah terhadpmu, tapi yang terpenting aku akan tetap bersamamu. Dari awal aku diciptakan oleh Dzat itu, memang aku dan kamu selalu ditakdirkan bersama bukan? Kamu selalu medatang mengunjungiku pada bulan-bulan tertentu. Hujan kamu jangan mengira semunya marah terhadapmu, masih banyak manusia yang menantikan kehadiranmu. Tahukah kau wahi Hujan, jika tidak ada dirimu, mana mungkin manusia bisa hidup. Kamu adalah sumber kehidupan.aku tahu memang banyak menusia yang marah terhadapmu jika kau datang mengunjungi ku, tapi kamu tahu, dibagian kaki tubuhku ada sekelompok manusia yang sangat menrindukan kedatanganmu”

“Apakah benar itu? Bukanya kedatanganku selama ini selalu dibenci dan dijahui? Soalnya jika aku datang, aku selalu meninggalkan bekas tangan yang polos ini diantara tubuhmu ketika kita sedang bermain rumah susun diatas kotak tanah itu.bekas tanganku yang membantumu untuk membangun kehidupan” tanya Hujan tidak percaya.

“ tentu saja Hujan, sebenarnya manusia yang tinggal ditubuhku lah yang seharusnya berterimakasih kepadamu. Tanpa kamu mana mungkin aku memrikan kehidupan kepada manusia yang hidup ditubuhku. Perkara bekas tanganmu yang selalu ada ditubuhku itu hingga menyebabkan banjir sana-sini, itu bukan salahmu. Kamu tidak salah sama sekali. Manusialah yang salah. Kamu tahukan saat ini aku sedang sakit, dan manusia ditubuhku tidak henti-hentinya merusak tubuhku. Mereka merusak paru-paruku yang berfungsi untuk menyerap airmu ketika kamu datang mengunjungiku, mereka membuang sampah sebarangan yang seharusnya jalan tersebut digunakan untuk kamu dan keluarga Hujanmu ketika bertemu berjabat tangan padaku sama seperti yang dilakukan oleh layaknya keluarga. Jika mereka marah padamu, maka seharusnya akulah yang marah dan murka pada mereka. Mereka setiap hari membuatku sakit parah. Kini tubuhku banyak banjir dimana-dimana, paru-paruku untuk bernafas perlahan mereka tebangin dan dibiarkan terbakar begitusaja ” tegas Bumi kepada Hujan.

“Hujan kamu jangan bersedih lagi yah, masih ada sekelompok manusia yang mengharapkan kedatanganmu, mereka selalu bersyukur jika kamu datang mengunjungiku karena mereka sadar, bahwa kamu adalah sumber kehidupan mereka. Ada juga sekelompok manusia yang memang menyukai air hujanmu, mereka selalu ingin bermain dengan kamu ketika kamu datang dan selau ingin melihat pelangi yang selalu datang bersamamu. Kata mereka, bahwa kamu dan pelangi itu sama-sama cocok dan pantas. Indah dan menwan ’
Kata Bumi

“Allah.Dialah yang mengirimkan angin, angin itu menggerakan awan dan Allah mendatangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu kamu lihat hujan keluar dari celahnya maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka menjadi gembira” ( Q.S Ar-Rum :48)
DSL
Jatinangor, 17 November 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s