Cerita Gehu Pedas

Pagi ini begitu cerah dan indah. Begitu juga hari-hari ku.

Pagi ini aku bersama teman-teman kembali mengacak-acak Lapas. hahah 😀

Suatu pemandangan yang jarang yang aku lihat. Pagi ini aku melihat beberapa anak di Lapas itu sedang asyik bermain layang-layang di depan wisma mereka. Cuma layang-layang padahal, tapi itu bisa membuat mereka sedikit tersenyum  dan tertawa riang. Sejenak mereka mampu melupakan masalah mereka, beban moral yang mereka pikul, dsb. Layang-layang persegi empat itu mampu membuat mereka tersenyum.

Hari ini banyak adik-adik asuh yang baru datang, dari sebuah daerah tempat dari tempat mereka sebelumnya. Hari ini hari kejujuran. Games yang di buat oleh kakak-kakak asuh tentang kejujuran mereka.

Di mulai dari pertanyaan yang ringan sampai yang intim. “Siapa disni yang suka olahraga?” , “siapa disini yang suka musik?” , “siapa disini yang kangen rumah? ”  ” siapa disini yang menyesal atas perbuatannya? ” ” siapa disini yang ketika keluar nanti ingin meminta maaf kepada keluarganya?” , sangat intim.sangat dalam. dan itu lah mereka.

Bervariasi jawaban, tapi aku sangat kagum sama mereka, banyak di antara mereka yang memiliki jawaban “tidak” tapi memreka punya alasan.

Hari ini aku, memiliki 3 tambahan adik asuh, sebelunya aku hanya mendapatkan 2 orang adik asuh dan sudah saku ceritakan pada tuisan sebelumnya, 3 adik asuh yang baru ini cukup unik, cukup pintar, dan cukup juga pendiam.

Aku memperhatikan dengan sangat amat teliti setiap jawaban yang mereka berikan pada games itu, dan yang unik adalah..
“siapa disini yang mau pulang rumah?” ..

dari 5 orang adik asuhku hanya 2 orang saja yang maju, itu juga karena mereka akan dibebaskan bulan depan dan tahun depan. Antara senang dan sedih. Ketika aku bertnya “kenapa gak maju tadi? emng beneran gak kegen rumah?”

seorang adik asuhku yang menjawab tidak menjawab, “saya kangen, teh, kangen banget malah, udah 2 tahun lebih gak kerumah, gak ngelihat keramain orang, tapi saya mah, realistis saja. saya harus lama menjalani hukuman di sini. Saya masih belum pantas pulang, saya ,masih belum bisa.. ” dia menjawab dengan nada rendah, yang menandakan sebuah penyesalan.

Realistis. Mungkin itu yang tepat untuk menyimpulkan semuanya.  3 orang adik asuh yang baru 2 diantara seoarang pelajar Sekolah Menegah Kejuruan.  2 orang diataranya juga memiliki cita-cita ingin mejadi pemain sepak bola, dia juga bilang “teh, saya sama teman-teman disini tiap pagi setelah senam pagi latihan sepak bola secara profesional, saya banyak mengambil hal postif disini. Saya suka olahraga, saya suka bola, sok liat nanti tahun depan saya ketika saya keluar di lapas ini saya akan menjadi pemain profesional, saya akan main di Myanmar teh .. ”  dengan semangat antusia di menceritakan semua impiannya itu.

Saya. Saya hanya mampu tersenyum dengan ikhlas , dan mengatakan pada dia “sok wae, teteh mah nggak ngerti tentang bola, cuma taunya Messi dari club Argentina, soalnya dari seluruh pemain sepak bola dunia cuma taunya dia doang, hahhah yang paling kalo pemain indonesia cuma taunya Evan Dimas, sama bambang doang, selebihnya buta tentang bola. Sok, kalo kamu nanti beneran keluar teteh mau deh nonton kamu, walaupun harus bolos kuliah asal masih di daerah Jawa Barat mah masih bisa terjangkau 😀 ” jawab ku nyegir.

Oke, mungkin di antara mereka berlima hanya 2 orang yang sedkit cerewet untuk menjawab semua pertanyaan ku, mulai dari yang gak penting sampe yang penting.

Banyak di antara mereka yang merasakan hal positif dalam sana, banyak juga yang tidak. Banyak yang menyesal atau perbuatan mereka, banyak juga yang tidak. Malah beberapa adik asuh disana mengatakan “saya mah, nanti kalo udah keluar dari sini, hal pertama saya lakukan adalah beli rokok, beli minuman keras… ”

Saya lagi-lagi hanya mampu tersenyum dan sedikit memberi nasehat. juga melajutkan pertanyaan-pertanyaan tentang garis kejujuran mereka. Oia, terkadang yang bikin pusing kakak asuh, mereka memiliki terlalu banyak nama alias.

Tidak sedikit juga yang banyak merasakan hal positif, “kalo teteh boleh tahu, hal positif apa yang kamu rasakan semenjak disini?”

“banyak teh, yang tadinya saya nggak bisa ngaji sekarang jadi bisa, yang tadinya saya nggak pernah baca buku, sekarang saya jadi suka baca buku, disini juga saya bisa latihan sepak bola terus teh, sesuai dengan hoby saya.. ”

Selanjutnya pembicaraan yang dari hati ke hati, antara adik asuh dan kakak asuh, mendengarkan semua keluh kesah mereka didalam sana, apa yang mereka rasakan, bahkan unek-unek mereka juga.

Sampai di puncak acara, sebelum acara selesai, beberapa adik asuh lapas mengatakan

“teh minggu depan bawa gehu pedas dong”

“iyah, insya Allah ya 🙂 ”

Kalo saya sendiri bukan seorang yang suka dengan gehu pedas, soalnya bagi saya gehu pedas itu rasa nya aneh.  Bagi saya hanya sekedar membeli gehu pedas itu hanya tinggal merogoh kantong lalu saya akan medapatkan gehu pedas. Tapi tidak buat mereka, mungkin bisa dibilang mereka kangen dengan makanan tradisonal tersebut.

Entahlah, mungkin sudah terlalu lama anak-anak itu dihukum di balik jeruji besi yang sangat tinggi dan kokoh, lalu,makanan yang mereka konsumsi juga tidak banyak variasinya sampai-sampai hal pertama yang inginkan oleh anak-anak di balik jeruji besi itu adalah Gehu Pedas.
Sepele memeng hanya sekedar GEHU PEDAS, tapi mereka sangat menginginkannya, mungkin makanan itu yang dapat menjadikan obat rasa rindu terhadap masakan ibu mereka sedikit tersampaikan.

Tubagus Ismail Bandung, 30 November 2013

Nb: pada tulisan sebelumnya saya menulis, ini adalah cerita pertama dan terakhir tentang adi-adik asuh saya di lapas (spertinya), tapi ternyata akan berlajut (Sepertinya) 🙂Gambar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s