Bermain Bersama Teman-teman Tunanetra

Hallo guys..

Saya mau cerita nih, tentang pengalaman pertama saya bersama teman-teman Tunanetra.

Jadi awalnya saya hanya berniat ingin main ke “Car Free Day  Dago” , saya berangkat dari jatinangor pukul 6.30, saya sampai di Taman Cikapayang pukul 7.30, begitu saya turun dari bis saya melihat ada sekelompok orang yang tidak dapat melihat (Tunanetra), lalu karena saya penasaran saya langsung bertanya pada seorang bapak-bapak disana yang awalnya saya pikir beliau panitia penyelenggara kegiatan tersebut,

Saya : “bapak, punten mau nanya, ini ada acar apa ya??”

Bapak itu menjawab “ ini neng ada acara kegiatan sosial dari warga Malabar, ingin berbagi dengan orang-orang yang tunanetra..”

Saya: “ oh, begitu pak,, wahh saya boleh ikut gabung gak pak?? Persyaratannya apa  pak? “

Sih bapak itu pun menjawab, “ sok, mangga neng, ikut aja, justru saya senang ada yang mau ikut bantuin, itu tolong tuntun sih teteh yah, kita mau jalan di sepanjang jalan Car Free Day Dago, ITB, dan Kebung Binatang, tolong di tuntun yah tetehnya “

Lalu saya menjawab, “wah dengan senang hati pak J “

Akhirnya saya berkenalan dengan seorang wanita tunanetra, dia bernama Rustini atau biasa yang disebut Teh Titin, berumur 31 tahun, asal Tasikmalaya, status bercerai, tapi kini katanya sudah punya pacar lagi kok hahha J 😀

Saya menuntun teh Titin di bantu oleh seorang anak kecil yang bernama Silmi. Sebelumnya saya akan memberihatu dulu, acara tersebut bernama “Wisata Kasih”, yang diselenggarakan oleh warga RW.05 Kelurahan Malabar, jadi singkat ceritanya saya nimbrung disana awalnya dikarenakan rasa penasaran saya, dan tentu saja saya juga sangat menyukai hal-hal yang berbau sosial, sewaktu saya diizinkan ikut bergabung dengan warga dan teman-teman tunanetra saya sangat senang sekali. Para tunanetra tersebut bertempat tinggal di Wisma PSBN Wiyata Guna Badung yang bertempat di jalan Pajajaran Bandung.

Selama saya dan silmi menuntun teh Titin berjalan di Car Free Day, saya banyak bertanya kepada beliau,

Saya: “teh, teteh keluarganya diaman?”

Teh Titin: “Di Tasikmalaya neng.. “
saya: “oh, begitu, kalo boleh tau teteh udah lama tidak bisa melihat?
Teh Titin : “ iyah neng, dari kecil, tapi ini juga karena saya sakit. Jadi dulu sewaktu saya berumur dua tahun saya demam tinggi, diakrenakan saya bukan dari keuarga yang mampu untuk membayar ke rumah sakit ataupun puskesmas, jadinya saya dikasih obat tradisional sama bapak dan ibu, tapi yah, namanya juga orang kampung neng, dipikir kalo dikasih obat tradisional saja mah, ntar juga sembuh.. “ jawab teh Titin dengan santai
saya: “ oh, begitu teh”

Teh Titin “ Iyah (sambil senyum) , tapi saya juga masih bersyukur sama Allah, masih bisa hidup, walaupun saya tidak bisa melihat… “

Mendengar jawaban teh Titin yang seperti itu membuat saya terdiam. Lalu saya bertanya lagi “emang teteh di wisma belajar apa aja teh “

Teh Titin: “wah,  sebenarnya sih banyak neng, jadi wisma itu terdiri dari pendidikan non-formal dan formal, kalo yang formal itu yah, sekolah biasa ada SD,SMP,SMA,Kuliah kalo yang non-formal yah seprti saya, kita Cuma diajari massage, jadi kita diajarin buat mijit teh, biar ntar kalo keluar bisa dapat sertifikat tunanetra.. “

 Lalu saya bertanya kembali “oh, ada kuliahnya juga teh ??  lalu ntar kalo udah pada lulus kuliah mereka biasanya ngapain teh? “

“biasanya sih, jadi guru lagi teh, ada juga yang dibidang kejuruan, jadi mereka diajarin main alat musik begitu..” jawab teh Titin.

Sebenarnya banyak yang saya tanyakan kepada beliau tapi sepertinya bila saya menuliskannya disini pegel euy.. hahha 😀

Saya dan Silmi anak yang kini bersekolah kelas 5 Sd, kami berdua menuntun teh Titin mekintasi sepanjang jalan Car Free Day, lalu kami menjelaskan apa saja yang terdapat disebelah kanan dan kiri kami. Mulai dari menjelaskan bawa disebelah kanan kita ada jualan sosis bakar yang ueenak pisan,  anak-anak yang sedang bermain sepatu roda di depan Rs. Boromeus, lalu saya juga menjelaskan disebelah kanan kita ada anak-anak dari Unpad yang sedang promosi acara mereka yaitu “PEF”, jadi intinya saya bilang ke teh Titin bahwa di Car Free Day ini banyak orang-orang yang promosi, mulai dari pakain,makanan, sampai event-event.

Lalu kami berjalan menuju kampus ITB, sewaktu menuju kampus ITB saya melihat se-ekor kuda, lalu saya bilang “ teh, disebelah kanan kita itu ada se-ekor kuda, tinggi, berwarna coklat, teteh udah pernah pegang kuda belom?”

Lalu teh Titin menjawab “wah, belom neng.. “
“Teteh pegang kudanya mau nggak?” tanya saya

“Mau banget.. “ jawab teh Titin.

Akhirnya kami menuju tempat kuda tersebut lalu teh Titin pun meraba-raba kuda tersebut sambil saya jelaskan di kuda tersebut terdapat apa saja.

Setelah kami cukup beristirahat di depan kampus ITB, kami beserta teman-teman tunanetra yang lain pergi menuju Kebun Binatang yang letaknya di sebelah kampus ITB.

Dikebun binatang saya kembali menuntun teh Titin dan tak lupa pula saya juga berkenalan dengan beberapa tunanetra yang lain dan warga Malabar. Saya berkenalan dengan kang iwan, Hendra seorang tunanetra yang kini kelas 1 SMA  dibandingkan semua teman-teman tunanetra Hendra yang sangat pemalu, lalu ada kang ryan, dan banyak lainnya sampai saya lupa :P,

Namun ada satu yang membuat saya tertarik yaitu kang Ismail, beliau satu kelas dengan teh Titin, jadi bisa ditebak bahwa kang Ismail juga belajar pijit,namun tenyata diluar pendidikan dari wisma Wiyata Guna, beliau mengatakan bahwa beliau sangat suka membaca buku sejarah kuno, bukan Cuma itu saja, kang Hendra ternyata sangat pandai membaca,membuat puisi, menyanyi, dan yang tidak saya sangka adalah kang Hedra bisa Berbahasa Jerman!.

Saya menanyakan dari mana beliau belajar bahasa jerman lalu dia mengatakan, “dulu pernah ada reader/volunteer yang mengajarkan saya Bahasa Jerman, tapi kini mereka sudah tidak pernah lagi datang kewisma, kini saya punya satu masalah, para relawan yang saat ini sering ke wisma tidak dapat membacakan beberapa teks Bahasa Jerman, jadinya saya juga banyak lupa deh teh.. “

“oh begitu. “ jawab saya,

Lalu dengan cepat saya mencari salah satu pendamping dari Wisma Wiyata Guna,dan saya menanyakan bagaimana caranya agar saya dapat menjadi relawan disana, saya kini sedang berkuliah dijurusan Sastra Jerman, mungkin saya bisa membantu anak-anak tunanetra melanjutkan pelajaran Bahasa Jerman mereka. Tanpa basa-basi lagi saya meminta no.hp bapak asep (pendamping dari Wiyata Guna), lalu saya langsung mencocokan jadwal kuliah saya dengan kegiatan di Wisma Wiyat Guna.

Tidak sampai disitu saja, keceriaan teman-teman tunanetra tersebut dilanjutkan dengan merak menunggangi Gajah dan Unta. Saya juga sangat senang melihat raut wajah ceria mereka, banyak diantara teman-teman tunanetra yang mengatakan belum pernah ke Kebun Binatang, saya merasa kagum dengan warga Malabar itu, yang sangat peduli dengan mereka J. Saya juga menanyakan bagaimana perasaan mereka ketika menungangi Kudan dan Unta. Ada yang mengatakan takut, senang,seram,dll.

Oia, satu hal cerita lagi saya sangat takut sekali dengan hewan reptil yang bernama Ular, biasanya saya ketika melihat ular langsung lari, bahkan ketika membaca sebuah majalah lalu ada gambar ulanya reflex tangan saya membuang majalah tersebut. Namun tadi, entah apa yang membuat saya berani untuk menjenguk kediaman ular tersebut, dan akhirnya saya memaksakan diri untuk melihat dan menjelaskan bagaimana bentuk ular tersebut, kalo saya boleh jujur, ini pertama kalinya saya melihat ular dengan jelas dan sangat dekat dengan hewan reptil itu, awalnya sih takut namun saya merasa punya tanggung jawab untuk menjelaskan semuanya yang terdapat disekeliling kami baik itu Ular sekalipun.

Seusai kami berjalan-jalan mengelilingi kebun binatang, kini perjalanan menuju pulang. Sewaktu perjalanan pulang menuju pintu gerbang, kami bertemu dengan se-ekor Orang Utan lalu disebalhnya didampingi oleh pengurus kebun binatang tersebut. Teman-teman tunanetra akhirnya berbondong-bondong ingin memegang Orang Utan tersebut, tak lupa juga teh Titin yang sangat ingin sekali mengetahui rupa Orang Utan tersebut. Kini perjalanan selanjutnya warga Malabar dan teman-teman tunanetra menuju Restoran untuk makan siang disana dengan munggunakan bis, lalu akhirnya disana saya berpamitan dengan mereka dan mengucapkan terima kasih untuk hari ini.

DSL

Gambar
Bersama teh Titin
Gambar
Seorang teman tunanetra yang sedang mencoba membaca huruf demi huruf pada majalah
Gambar
Bersama Canti, Siswi Tunanetra kelas V Sd
Gambar
Bersama kang Ismail, Teh Titin dan Silmi di Kebun Binatang
Gambar
Bersama teman-teman Tunanetra yang lainnya {()}
Gambar
Teman Tunanetra yang sedang menikmati menunggang Unta
Gambar
Teman-teman Tunanetra pria yang sedang menganti untuk menunggang Unta
Gambar
Teh Titin berkenalan dengan Orang Utan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s